
Biar perahu menjadi layang-layang mengejarmu ke atas awan
Lalu kau sandarkan kepala di bahuku, Aku mencium rambutmu
Seperti dahulu sepulang dari bebek bengil menonton puisi
Akan kuhadang segala derita demi janji demi hati
Mesti ajal setajam duri perahu ini tak mungkin kembali
Pantang bersurut arah tak akan lagi berbalik kemudi
Menujumu dengan tekad sebulat bumi, setialah menanti
Demi lancip bulu mata dan senyum serimbun bambu
Telah kutunaikan janji sebagai lelaki sebagai matahari
Tak akan padam segala bara sampai ajal mengutuk diri
Janjilah menanti demi matahati aku kembali, akhir tahun nanti
Banda Aceh, 4 November 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar