skip to main |
skip to sidebar
Lautan sepi tiada ombak hendak bertandang
Lurus tiang layar tanpa angin tiada mengembang
Antara harapan dan kecemasan memucat pasang
Ada jarak mulai terpancang meski bayang-bayang
Banda Aceh, 31 Maret 2009
Seng bisa lupa cinta di mata
Cuma nona yang ada di dada
Hanya satu yang beta minta
Jangan sampai ada airmata
Seng bisa lupa nona pung muka
Deng rasa cinta di dalam dada
Cuma nona yang beta cinta
Polo beta katong bacinta
Banda Aceh, 31 Maret 2009
Jangan nona membuang muka
Kalau memang seng ada suka
Beta cuma mau bilang cinta
Mengapa nona mesti tingkala
Kalau memang ada yang salah
Ampun beta jang ale marah
Beta cuma buang suara
Sapa tau nona lai suka
Kalau memang nona seng bisa
Kasih maaf jua par beta
Jangan nona salah menduga
Beta cuma mau bilang cinta
Banda Aceh, 27 Maret 2009
Sesekali ingin juga kutulis puisi untukmu lagi
Seperti dahulu ketika rasa berbunga-bunga di dada
Tetapi langit begitu jauh untuk ditera dengan kata
Kita telah pernah berbagi masa
Juga anak-anak dan tanda mata
Tetapi takdir siapa mengira
Selalu datang tanpa dikira begitu banyak airmata
Masa yang lalu tidak melulu adalah luka
Pernah pula tergambar cerita
Juga harapan dan cita-cita meski kini telah sirna
Sesekali ingin kutulis lagi puisi untukmu seperti dahulu
Tentang angrek dan edelweis atau setangkai anyelir dalam jambangan
Tetapi kata-kata selalu sangkut di sela ganggang menjelma karang
Lalu asin memenuhi ruang hati terkadang empedu
Sesekali ingin juga kutulis lagi untukmu puisi rindu
Seperti dahulu kata-kata mengakrabkan bahu merekatkan waktu
Tetapi kita telah begitu jauh membuang muka menumpuk duka
Hanya airmata menjadi penanda dua hati telah terluka
Banda Aceh, 20 Maret 2009
Ambillah semua semau engkau ambil dariku
Hingga sampai kepulanganku hanyalah kosong
Seperti juga kedatanganku yang tanpa apa-apa
Kita telah saling berjanji kepadamu aku pasti kembali
Ambillah ambil seperti perjanjian di pintu rahim
Hingga kepulanganku hanyalah rindu untuk bertemu
Kekasih sejati di pusat sunyi seperti puisi yang kau bisiki
Menyusun harap sepenuh hati menuju engkau Ilahi Rabbi
Banda Aceh, 19 Maret 2009
Di Aceh telah kutampung semua duka
Tentang anak yang kau panggil pulang
Tentang istri yang berlari pulang
Tentang harapan dan reruntuhan
Juga cita-cita yang terlanjur hilang
Kini berlayar aku ke kampung halaman
Dengan luka menembus tulang
Masa depan atau karam
Hanya engkau alamat bertahan
Ada dan tiada apalah artinya
Jika engkau mengambil pulang
Banda Aceh, 19 Maret 2009
Kau cabut karang
Kau rebut ganggang
Aku ikan kehilangan sarang
Kau sobek harapan
Kau lemparkan kenangan
Perahu cinta terancam karam
Banda Aceh, 18 Maret 2009