Kamis, 22 Januari 2009

Surat Dari Laut


Masih melekat aroma doa, suara tahlilan dan wangi kasuba

Pada ketika Jumat malam terakhir jelang kepergian

Juga sisa airmata dari perempuan bermata pari

Yang terus kuhisap sebagai getar pembunuh rindu


Batu terakhir yang kupungut sebelum menaiki perahu

Kini tergantung di pinggang sebagai jimat dan penanda pulang

Meski alamat tak lagi tercatat, janji di kampung tak mati terbunuh

Berlayar pulamg-berlayar pulang, sio mama anakmu sengsara


Lalu seperti puisimu yang mengabarkan hujan Januari

Telah kutatah suku cadang perahu dari layar ke tali kemudi

Memompa rindu sepenuh palka sebagai bekal menuju ibu

Meski luka sepenuh tubuh berlayar pulang kuyakin mampu


Banda Aceh, 22 Januari 2009

Jumat, 16 Januari 2009

Sejak Langit Mengunci Diri

Dari sekian mimpi-mimpi yang terlanjur karam

Kau telah menyeretku pada pusaran masa lalu

Dari kuburan nenek moyang yang menjelma batu-batu

Satu dua nisan seolah kenangan lama

yang menyembulkan luka-luka ke permukaan


Pada pertautan kita yang semakin tak juga dimengerti

Tali layar dan tiang kemudi membelit sekujur perahu

Haluan dan buritan sama kerasnya mematahkan janji

Kita hanya menunggu waktu untuk tenggelam diam-diam


Dari sekian janji yang telah terucapkan dari hati

Kau memilih pelarian sebagai jalan tak akan kembali

Mengubur mimpi-mimpi seperti jasad di dalam peti

Meski langit mengunci diri, air mata ini tak mungkin berhenti



Banda Aceh, 17 Januari 2009



Rabu, 07 Januari 2009

Hanya Sepi Memecah Mimpi

Mereka-reka batas umur yang masih tersisa
Adakah lagi cerukan tajam bakal memutar haluan perahu
Setelah derita silih berganti memenuhi seisi palka
Nafas dan derita timpa-menimpa tak cukup didepa
Pelabuhan mana arah menuju berharap dihela

Di persimpangan selat dan tanjung nasib pelaut kian melapuk
Berharap pelukan apakah ada harapan di pantai
Rindu yang sunyi hanya palka tempat mengaduh
Kepada malam puisi terakhir telah terkirim
Melayang kemana hanya sepi memecah mimpi


Banda Aceh, 8 Januari 2009

Jumat, 02 Januari 2009

Demi Mutiara

Ceritaku setelah ini taring hiu dan bisa pari mengagas hari
Membawanya ke lembut hatimu hanya akan tercipta luka
Derai airmata kirimkan saja kepada awan

Barangkali menjelma hujan lalu tumbuh bunga-bunga


Tentang kita masa lalu yang teramat indah meski kadang tercipta luka
Tentang masa depan derap pelayaran semakin kusut menuju maut
Mutiara yang telah digenggaman peliharalah demi masa
Hanya dia pelipur lara agar kita tak binasa meski tak lagi bersama



Medan 3 Januari 2009

Terhela Jadi Sengsara

Telah kutulis beribu sajak tentang laut tentang maut

Patah hati dan luka menganga, benarkah ini celaka?

Siapakah aku? buih terapung atau kerikil berserak

Hari yang terlewat adalah deretan musim luka


Tentang nasib baik apakah seperti persinggahan

Datang dan pergi silih berganti seperti musim

Andai begitu adanya sesiapa bisa menahan angin

Demi cita-cita yang tak jatuh dari tiang layar


Telah kutulis beribu larik tentang musim

Teluk dan ombak juga badai dan taufan pada pelayaran

Siapa aku? datu penjaga laut atau cuma pencuri kata

Puisi yang tercipta masihkah terbaca cinta atau binasa?


Berharap rindu dari rindang dahan bakau

Tuba di akar dengki kau taruh juga ke dalam belanga

Hari-hari semakin binasa, kita terhela jadi sengsara


Medan, 3 Januari 2009



Kamis, 01 Januari 2009

Pelaut Sunyi

Lebih gelap mana hujan atau airmata
Wajah yang melupa cinta yang tersia
Apatah arti meluka

Bila cahaya di ujung jelaga
Jemari siapa menyalakan lentera
Jiwa yang lelah tubuh yang renta
Hanya musim mendekatkan wangi cempaka

Batu nisan atau pelukan tanjung karang
Kepada apa senyum terakhir hendak kau tempa

Pelaut yang sunyi
Nasibmu hanya arah mata angin
Kalaulah nanti ada harapan
Sudikah perahu kau tarik ke pantai

Medan, 1 Januari 2009

Selasa, 23 Desember 2008

Hujan di atas Keerkhof

Malam gerimis

Hujan di atas keerkhof

Kita telah sampai di garis mati

Kumohon lepaskan aku


Banda Aceh, 24 Desember 2008