Kamis, 31 Juli 2008

Senja Duka di Makam Tua


Di Keerkhof telah ku gulung berjuta ingatan
Tentang kampung halaman dan perempuan
Tentang nenek moyang dan sejarah masa lampau
Lalu terasa betapa aku begitu sendiri dalam kesunyian
Yang entah berapa ratus tahun bisa di jangka

Di Keerkhof, sisa perjalanan hanya makam tua
Yang bersilangan nama-nama dan tahun kematian
Aku terpaku menghitung nama-nama pada dinding prasasti
Marga dan kerabat yang akrab dimata, ada juga Lambertus

Di Keerkhof, Aku terus mendepa jarak yang tak kunjung susut
Antara kampung halaman dan masa pelarian yang tak berkesudahan
Kuraba gambar Johanes L J Hubertus sambil membatin di ujung tugu
Apakah aku juga akan berbaring di tanah ini karena peluru
Atau segera menyusul anakku yang terlanjur berlayar ke hulu

Di Keerkhof betapa keyakinan telah menjadikan aku batu
Lalu ku catat satu demi satu hentakan waktu yang terus menderu
Seolah derap sepatu serdadu marsose dari masa lalu datang memburu
Puisi ini tentang kenangan dan juga pengharapan
Ke arah mana kesepakatan akan dibawa sepenuh hidup

Di Keerkhof betapa aku telah melampaui batas waktu
Antara sejarah masa lalu dan harapan yang akan datang
Bisakah kita mengubur dendam dengan diam
Seperti mereka yang dahulu telah perang dan pulang?

Banda Aceh, 31 Juli 2008

*Keerkhof= Makam Tentara Belanda di Banda Aceh

Kamis, 24 Juli 2008

Hikayat Cinta Sepasang Rupa


Di situ tempat telah kita memutus kata untuk bersama
Menelusuri gelapnya jalan demi cinta yang mencari rupa
Saling menanam bahasa rindu meski terpaut jarak dan waktu
Di sisimu itu sederet cahaya mulai menyala, api asmara

Demi jiwa yang dahulu dahaga, engkau datang memutus sengsara
Padamulah seribu kembang kan kuterbangkan mewarna pelangi
Bermandikan jingga berpadu mesra, rapatkan jemari genggamlah cinta
Berjalanlah kita meniti janji yang entah kenapa kini meronta

Demi cinta yang kini menyala, aku tak takut di buru hantu
Separuh umur di sisa hidup akan ku arung merebut waktu
Meski terpaut jarak dan umur saling menanam bahasa rindu
Begitu bermula asal asal cerita hikayat cinta sepasang rupa

Banda Aceh, 25 Juli 2008

Berkalang Nasib Sepenuh Waktu


Mengalirkah cintamu seperti sungai merangkai setia
Kepada muara tempat bermula, asal segala dahulu bersua
Engkau air dan akulah batu, membunuh waktu tak perlu bayu
Begitu bermula asal cerita sebening embun bermanja di daun

Kepada airlah ikan-ikan menulis kenangan
Kepada batu menanam percaya sudah lama, itu cerita
Ketika itu menjelma hidup di batu karang sekujur waktu
Dari benih mendulang wujud menyimpan terang seribu cahaya

Sucikah kita dari niat serupa nelayan
Kepada sampan menanam percaya, itu cinta
Merenda nasib menyusur sepi demi harapan meskipun sunyi
Mendayung rindu berkalang nasib sepenuh waktu tak jua jemu

Seperti sungaikah cintamu janji menari meski rindu
Ke asal segala kita bersatu, seperti muara tempat semula
Akulah batu engkaulah air tak perlu angin menderu maju
Selalu manja membasuh waktu, seindah itu asal cerita

Banda Aceh, 24 Juli 2008

Rabu, 23 Juli 2008

Sajak Sepotong Rindu


*Maulana Alfi Syahri

Menziarahimu adalah perjalanan menyeret garis waktu
Pada batas rindu dimana umur seharusnya berhenti
Aku terus memunguti kenangan sepanjang sisa umur
Makam hijau tua dan pasir pantai tarasa masai
Kamboja berdiri gontai aku lunglai airmata berderai

Kepada siapa luka-luka harus ku kabarkan, adakah ibu?
Kau dan aku saling mati dalam dua batas sunyi yang menggerogoti
Aku larut mencarimu pada doa dan sisa kenangan yang terus meronta


Banda Aceh, 15 Juli 2008

Menjemput Galau


Selain pelaut siapa lagi yang terbiasa memamah rindu
Lautan dan pulau seolah hantu yang memburu di gelap malam
Bulan dan tahun terlewati dalam kehampaan terasa buram
Pada tiap-tiap persingahan hanya ada keliaran mencari pelukan
Pada perempuan malam dan kuda liar di hitamnya ranjang

Selain pelaut siapa lagi yang terbiasa melempar rindu
Pada dinding-dinding sepi bermodal potret kekasih
Apakah yang dibayangkan selain merapatkan diri
Pada pelabuhan yang sudah lama di tinggal pergi
Dalam pelukan sang perempuan mencari rembulan

Suatu hari nanti aku akan menciummu sepenuh rindu
Kuraba perempuan kayalan dalam angan, cuma dinding kapal
Ruang kosong dan langit-langit palka seolah berseru, mati kau
Sisa bacardi masih cukup membawa kemabukan
Berlayarlah aku ke pelabuhan khayalan menjemput galau


Banda Aceh, 08 Juli 2008

Aku Di Sini Tuan Dalam Kepayahan


Aku di sini Tuan dalam kepayahan
Kemarin lusa terhempas badai hampir lunglai
Sakit mengurung hingga dasar pelataran
Di palka-palka tulang rusuk terasa remuk teramuk radang
Lambung dan paru-paru terasa sangsai
Satu dua nafas tak bisa menghela ke pelabuhan
Ini perahu hampir saja karam

Aku di sini Tuan dalam kemalangan
Kemarin lusa badai melemparku ke tebing karang
Semakin rapuh terburu umur, terasa dekat ke liang kubur
Di kabin perahu nasib baik tak sempat untuk diukur
Huruf-huruf seperti tergulung entah di geladak entah di buritan
Satu dua nafas terasa berat untuk dihela
Ini nasib hampir saja selesai

Banda Aceh, 6 Juli 2008

Terbatas Waktu


Jika kesendirian adalah jalan ke arah pulang
Maka kita harus bertarung merebut waktu
Karena cahaya tak datang sendiri kecuali kau cari
Pada tiap-tiap kerinduan ada airmata sebagai pertanda
Aku atau engkau akan selalu seperti itu, rindu

Kita adalah pelayar yang tak mampu menghitung waktu
Masa lalu dan hari depan hanya angka tak bisa diraba
Bila waktu telah tiba yang tersisa hanya kerangka
Juga keranda sebagai pertanda bagi mereka di belakang kita
Aku dan engkau akan berjalan ke satu pintu, maut

Jika cinta telah membawamu dari waktu ke pintu kubur
Kepada siapa batu nisan kau titipkan di ujung rindu
Anak-anakmu penadah pilu atau istri yang segera berlalu
Sejarah adalah perbuatan sepanjang umur, terkadang pilu
Aku atau engkau akan selalu seperti itu, terbatas waktu

Banda Aceh, 1 Juli 2008