Minggu, 05 April 2009

Seturut Airmata

Bahkan ketika hari terluput dieja
Engkau masih saja mendua muka

Lalu aku terkurung duka mengurut dada
Melarungkan luka seturut airmata


Banda Aceh, 5 April 2009

Seasin Laut Memerihkan Dada

Apakah detak meluka seasin laut memerihkan dada
Rindu yang berairmata datang menikam seperti trisula

Tentang nelayan yang semakin jauh menebarkan jala

Adakah harapan membaca nada di kelopak mata

Banda Aceh, 5 April 2009

Rabu, 01 April 2009

Berlayarlah Dengan Bendera Atas Nama Diri

*reza

Ingin kuajak dirimu serta dalam pelayaran mencari sepi
Tentang cinta dan rahasia waktu juga maqom tempat menuju

Tetapi kita punya alamat sendiri-sendiri, cobalah mencari

Punya tujuan sendiri-sendiri meski sama berperahu puisi


Gerimis itu penanda berpisah seperti jejak di setiap pulang

Sebagai tanda sapa yang memulangkan rindu ke asal sunyi

Meski kenangan terus menghidu asinnya buih seperti katamu

Pelayaran kita menempuh waktu tak bisa dibagi, sudah begitu


Ingin kuajakamu serta dalam serta palayaranku membuka rahasia

Tentang kesetian dan arah angin juga alamat untuk kembali

Tetapi kita punya perahu sendiri-sendiri untuk menuju dermaga sunyi

Jikapun pernah bersua bukan untuk tak saling berpisah, begitulah waktu

Maka layarilah lautmu sambil membaca gerakan angin

Mencari-cari jejak hakikat, yang mana emas yang mana loyang

Sungguh puisi hanyalah kata tetapi bukan berarti busa

Rajutlah ia menjadi layar sebagai bekal menuju kesana

Dengan atas nama diri sendiri begitulah kita menuju mati


Banda Aceh, 1 April 2009

Selasa, 31 Maret 2009

Sekerat Jarak

Lautan sepi tiada ombak hendak bertandang
Lurus tiang layar tanpa angin tiada mengembang

Antara harapan dan kecemasan memucat pasang
Ada jarak mulai terpancang meski bayang-bayang

Banda Aceh, 31 Maret 2009

Seng Bisa Lupa

Seng bisa lupa cinta di mata
Cuma nona yang ada di dada

Hanya satu yang beta minta

Jangan sampai ada airmata


Seng bisa lupa nona pung muka

Deng rasa cinta di dalam dada

Cuma nona yang beta cinta

Polo beta katong bacinta


Banda Aceh, 31 Maret 2009

Kamis, 26 Maret 2009

Cuma Mau Bilang Cinta

Jangan nona membuang muka
Kalau memang seng ada suka


Beta cuma mau bilang cinta
Mengapa nona mesti tingkala

Kalau memang ada yang salah

Ampun beta jang ale marah


Beta cuma buang suara

Sapa tau nona lai suka


Kalau memang nona seng bisa
Kasih maaf jua par beta


Jangan nona salah menduga

Beta cuma mau bilang cinta


Banda Aceh, 27 Maret 2009


Jumat, 20 Maret 2009

Begitu Jauh Membuang Muka

Sesekali ingin juga kutulis puisi untukmu lagi
Seperti dahulu ketika rasa berbunga-bunga di dada

Tetapi langit begitu jauh untuk ditera dengan kata


Kita telah pernah berbagi masa

Juga anak-anak dan tanda mata

Tetapi takdir siapa mengira

Selalu datang tanpa dikira begitu banyak airmata


Masa yang lalu tidak melulu adalah luka

Pernah pula tergambar cerita

Juga harapan dan cita-cita meski kini telah sirna

Sesekali ingin kutulis lagi puisi untukmu seperti dahulu

Tentang angrek dan edelweis atau setangkai anyelir dalam jambangan
Tetapi kata-kata selalu sangkut di sela ganggang menjelma karang

Lalu asin memenuhi ruang hati terkadang empedu


Sesekali ingin juga kutulis lagi untukmu puisi rindu

Seperti dahulu kata-kata mengakrabkan bahu merekatkan waktu

Tetapi kita telah begitu jauh membuang muka menumpuk duka
Hanya airmata menjadi penanda dua hati telah terluka


Banda Aceh, 20 Maret 2009