Pantailah tempat pasir mengubur kenangan tanda kembali, janji.
Dermaga yang hilang, laut yang cekat, kemana nasib menderas.
Kitalah perantau, selalu bimbang pada harapan dan jalan pulang.
Menghitung-hitung musim sesaji sambil mengutuki sang matahari.
Ke dasar payau ke ujung bakau, nasib baik tak sudi memanggil.
Jejak sunyi seorang lelaki yang berjalan di atas laut, menuju maut.
Apakah detak meluka seasin laut memerihkan dada Rindu yang berairmata datang menikam seperti trisula Tentang nelayan yang semakin jauh menebarkan jala Adakah harapan membaca nada di kelopak mata
Ingin kuajak dirimu serta dalam pelayaran mencari sepi Tentang cinta dan rahasia waktu juga maqom tempat menuju Tetapi kita punya alamat sendiri-sendiri, cobalah mencari Punya tujuan sendiri-sendiri meski sama berperahu puisi
Gerimis itu penanda berpisah seperti jejak di setiap pulang Sebagai tanda sapa yang memulangkan rindu ke asal sunyi Meski kenangan terus menghidu asinnya buih seperti katamu Pelayaran kita menempuh waktu tak bisa dibagi, sudah begitu
Ingin kuajakamu serta dalam serta palayaranku membuka rahasia Tentang kesetian dan arah angin juga alamat untuk kembali Tetapi kita punya perahu sendiri-sendiri untuk menuju dermaga sunyi Jikapun pernah bersua bukan untuk tak saling berpisah, begitulah waktu
Maka layarilah lautmu sambil membaca gerakan angin Mencari-cari jejak hakikat, yang mana emas yang mana loyang Sungguh puisi hanyalah kata tetapi bukan berarti busa Rajutlah ia menjadi layar sebagai bekal menuju kesana Dengan atas nama diri sendiri begitulah kita menuju mati
Lautan sepi tiada ombak hendak bertandang Lurus tiang layar tanpa angin tiada mengembang Antara harapan dan kecemasan memucat pasang Ada jarak mulai terpancang meski bayang-bayang
Sesekali ingin juga kutulis puisi untukmu lagi Seperti dahulu ketika rasa berbunga-bunga di dada Tetapi langit begitu jauh untuk ditera dengan kata
Kita telah pernah berbagi masa Juga anak-anak dan tanda mata Tetapi takdir siapa mengira Selalu datang tanpa dikira begitu banyak airmata
Masa yang lalu tidak melulu adalah luka Pernah pula tergambar cerita Juga harapan dan cita-cita meski kini telah sirna
Sesekali ingin kutulis lagi puisi untukmu seperti dahulu Tentang angrek dan edelweis atau setangkai anyelir dalam jambangan Tetapi kata-kata selalu sangkut di sela ganggang menjelma karang Lalu asin memenuhi ruang hati terkadang empedu
Sesekali ingin juga kutulis lagi untukmu puisi rindu Seperti dahulu kata-kata mengakrabkan bahu merekatkan waktu Tetapi kita telah begitu jauh membuang muka menumpuk duka Hanya airmata menjadi penanda dua hati telah terluka
Dino Umahuk adalah penyair Indonesia kelahiran Maluku Utara. Puisi-puisinya terbit di sejumlah media dan terkumpul dalam sejumlah bunga rampai. Mengikuti berbagai pertemuan sastra di dalam dan luar negeri. Ia telah menerbitkan enam buku puisi: Metafora Birahi Laut (Lapena 2008), Lelaki yang Berjalan di Atas Laut (Lapena 2009), Mahar Cinta Lelaki Laut (Tinta Pena 2009), Riwayat Laut (UMMU Press 2010). Puisi Pilihan “Panggilan Laut Halmahera” (UMMU Press 2011) dan Sebelum Laut Merebutku’Sepi (Garasi Genta 2013) Dino tengah menyiapkan antologi Puisinya yang ketujuh berjudul “Laut maluku Lekuk Tubuhmu” Disamping menulis puisi ia juga menulis kolom dan menyutradarai film dokumenter. Kini mengajar di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.